PERMASALAHAN KOMODITI KACANG TANAH DALAM PEMASARAN, KEMITRAAN, dan SOLUSINYA

Selasa, 13 November 2012

| | |
      Tanaman kacang tanah merupakan tanaman pangan dan produktif yang penting di Indonesia. Lebih dari 1,2 juta ton kacang tanah diproduksi setiap tahunnya dan 70% dari produksi keseluruhan dihasilkan di provinsi-provinsi beriklim kering di Kawasan Timur Indonesia. Peningkatan permintaan domestik melebihi kemampuan pasokan yang tersedia, sehingga membuat Indonesia menjadi salah satu importir kacang tanah terbesar di dunia.
Nusatenggara Barat (NTB) menyimpan potensi lahan yang baik untuk pengembangan budidaya kacang tanah. Masyarakat di wilayah NTB telah lama mempunyai kultur menanam kacang tanah sebagai komoditas pertanian utama, khususnya di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, dan Lombok Tengah.
Produksi kacang tanah NTB saat ini sekitar 45 ribu ton per tahun dengan produktivitas 1,2-1,4 ton per hektar (ha). Dengan hasil tersebut, NTB baru menyumbangkan sekitar 6% kebutuhan kacang tanah nasional.  Tantangan yang dihadapi pertanian kacang tanah NTB pun tidak sedikit, produktivitas masih rendah, kurangnya pasokan benih yang baik, kurangnya permodalan dan pasar, serta kurangnya dukungan riset pertanian yang memadai. Kemitraan yang ada masih perlu dibangun lebih baik lagi agar semakin banyak petani mau ikut serta di dalamnya. Masih banyak petani yang lebih memilih menjual kepada pedagang lepas, yang mungkin menawarkan harga lebih baik dibandingkan kemitraan itu.
Berdasarkan hal tersebut, Pusat Pengkajian Pertanian Internasional Australia (ACIAR) dan Prakarsa Pengembangan Agribisnis Petani Kecil (SADI) bekerja sama  dalam pengembangan dan pelaksanaan strategi untuk meningkatkan produktifitas kacang tanah melalui pemanfaatan penelitian terapan di Nusa Tenggara Barat dan Timur. Peran ACIAR dipadukan dengan peran subprogram-subprogram SADI lainnya dengan berfokus pada upaya peningkatan produksi dan pemasaran petani kecil serta memperkuat pengembangan agribisnis sektor swasta, sehingga menciptakan peluang bagi masyarakat supaya mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya
Adapun salah satu subprogram SADI yaitu International Finance Corporation (IFC)  telah melaksanakan kemitraan dengan sebuah perusahaan pembeli dan pengolahan kacang  tanah terbesar di Kawasan Timur Indonesia, Garuda Food untuk meningkatkan akses petani ke pasar, sumber pendanaan dan dukungan teknis. Tim peneliti ACIAR-SADI bekerja langsung dengan para petani yang terlibat di dalam rantai pasokan Garuda Food. Pada saat ini Garuda Food memasok kebutuhan kacang tanah mereka dari sekitar 3.500 petani.
Saat ini di NTB, kemitraan yang terjalin sejak 2007 ini berhasil merangkul lebih dari 8.000 petani kecil di kawasan Nusatenggara Barat, dengan luas lahan mencapai 3.000 ha. Luasan tersebut tersebar di 8 kabupaten dan 36 kecamatan di Lombok dan Sumbawa.
Di sisi lain, khususnya di NTB Garuda Food menyebarkan pelajaran yang telah diperoleh kepada para petani melalui PT BMT, anak perusahaannya yang bertanggungjawab dalam pengadaan bahan baku kacang tanah. Selain itu, berperan pula dalam penyediaan bibit berkualitas dan peralatan pertanian yang dibutuhkan. Selanjutnya, hasil panen petani yang ikut dalam kemitraan akan kembali dibeli oleh Garuda Food. Bahkan, ada insentif tambahan bagi petani yang menghasilkan kacang tanah berkualitas prima. Dengan kemitraan, kualitas kacang tanah yang dihasilkan meningkat, sehingga kualitas produk GarudaFood pun meningkat.
Dengan adanya kerja sama antara Pusat Pengkajian Pertanian Internasional Australia (ACIAR) dan Prakarsa Pengembangan Agribisnis Petani Kecil (SADI), didapatkan beberapa keuntungan diantaranya yaitu:
  • Dengan adanya pemanfaatan penelitian terapan yang dilakukan menciptakan hasil yang sangat bagus dari sejumlah varietas baru dibandingkan dengan varietas-varietas lokal yang ada, selain itu praktik budidaya baru memiliki efek positif yang signifikan terhadap produktifitas kacang tanah. 
  • Kemitraan yang terjalin antara petani dan Garuda Food, menguntungkan keduanya. Terutama petani,karena dapat meningkatkan akses petani ke pasar. Selain itu petani juga mendapat sumber pendanaan dan dukungan teknis.

0 komentar:

Posting Komentar

PERMASALAHAN KOMODITI KACANG TANAH DALAM PEMASARAN, KEMITRAAN, dan SOLUSINYA

      Tanaman kacang tanah merupakan tanaman pangan dan produktif yang penting di Indonesia. Lebih dari 1,2 juta ton kacang tanah diproduksi setiap tahunnya dan 70% dari produksi keseluruhan dihasilkan di provinsi-provinsi beriklim kering di Kawasan Timur Indonesia. Peningkatan permintaan domestik melebihi kemampuan pasokan yang tersedia, sehingga membuat Indonesia menjadi salah satu importir kacang tanah terbesar di dunia.
Nusatenggara Barat (NTB) menyimpan potensi lahan yang baik untuk pengembangan budidaya kacang tanah. Masyarakat di wilayah NTB telah lama mempunyai kultur menanam kacang tanah sebagai komoditas pertanian utama, khususnya di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, dan Lombok Tengah.
Produksi kacang tanah NTB saat ini sekitar 45 ribu ton per tahun dengan produktivitas 1,2-1,4 ton per hektar (ha). Dengan hasil tersebut, NTB baru menyumbangkan sekitar 6% kebutuhan kacang tanah nasional.  Tantangan yang dihadapi pertanian kacang tanah NTB pun tidak sedikit, produktivitas masih rendah, kurangnya pasokan benih yang baik, kurangnya permodalan dan pasar, serta kurangnya dukungan riset pertanian yang memadai. Kemitraan yang ada masih perlu dibangun lebih baik lagi agar semakin banyak petani mau ikut serta di dalamnya. Masih banyak petani yang lebih memilih menjual kepada pedagang lepas, yang mungkin menawarkan harga lebih baik dibandingkan kemitraan itu.
Berdasarkan hal tersebut, Pusat Pengkajian Pertanian Internasional Australia (ACIAR) dan Prakarsa Pengembangan Agribisnis Petani Kecil (SADI) bekerja sama  dalam pengembangan dan pelaksanaan strategi untuk meningkatkan produktifitas kacang tanah melalui pemanfaatan penelitian terapan di Nusa Tenggara Barat dan Timur. Peran ACIAR dipadukan dengan peran subprogram-subprogram SADI lainnya dengan berfokus pada upaya peningkatan produksi dan pemasaran petani kecil serta memperkuat pengembangan agribisnis sektor swasta, sehingga menciptakan peluang bagi masyarakat supaya mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya
Adapun salah satu subprogram SADI yaitu International Finance Corporation (IFC)  telah melaksanakan kemitraan dengan sebuah perusahaan pembeli dan pengolahan kacang  tanah terbesar di Kawasan Timur Indonesia, Garuda Food untuk meningkatkan akses petani ke pasar, sumber pendanaan dan dukungan teknis. Tim peneliti ACIAR-SADI bekerja langsung dengan para petani yang terlibat di dalam rantai pasokan Garuda Food. Pada saat ini Garuda Food memasok kebutuhan kacang tanah mereka dari sekitar 3.500 petani.
Saat ini di NTB, kemitraan yang terjalin sejak 2007 ini berhasil merangkul lebih dari 8.000 petani kecil di kawasan Nusatenggara Barat, dengan luas lahan mencapai 3.000 ha. Luasan tersebut tersebar di 8 kabupaten dan 36 kecamatan di Lombok dan Sumbawa.
Di sisi lain, khususnya di NTB Garuda Food menyebarkan pelajaran yang telah diperoleh kepada para petani melalui PT BMT, anak perusahaannya yang bertanggungjawab dalam pengadaan bahan baku kacang tanah. Selain itu, berperan pula dalam penyediaan bibit berkualitas dan peralatan pertanian yang dibutuhkan. Selanjutnya, hasil panen petani yang ikut dalam kemitraan akan kembali dibeli oleh Garuda Food. Bahkan, ada insentif tambahan bagi petani yang menghasilkan kacang tanah berkualitas prima. Dengan kemitraan, kualitas kacang tanah yang dihasilkan meningkat, sehingga kualitas produk GarudaFood pun meningkat.
Dengan adanya kerja sama antara Pusat Pengkajian Pertanian Internasional Australia (ACIAR) dan Prakarsa Pengembangan Agribisnis Petani Kecil (SADI), didapatkan beberapa keuntungan diantaranya yaitu:
  • Dengan adanya pemanfaatan penelitian terapan yang dilakukan menciptakan hasil yang sangat bagus dari sejumlah varietas baru dibandingkan dengan varietas-varietas lokal yang ada, selain itu praktik budidaya baru memiliki efek positif yang signifikan terhadap produktifitas kacang tanah. 
  • Kemitraan yang terjalin antara petani dan Garuda Food, menguntungkan keduanya. Terutama petani,karena dapat meningkatkan akses petani ke pasar. Selain itu petani juga mendapat sumber pendanaan dan dukungan teknis.

0 komentar on "PERMASALAHAN KOMODITI KACANG TANAH DALAM PEMASARAN, KEMITRAAN, dan SOLUSINYA"

Posting Komentar